Cina Melawan Sanksi Nuklir Iran: Melindungi Kerja Sama, Menolak Hegemoni

Esai ini akan mendiskusikan keputusan yang diambil Cina dalam Dewan Keamanan PBB terkait sanksi terhadap Iran akibat pengembangan nuklirnya. Pada Agustus 2020 lalu, Cina menolak resolusi Dewan Keamanan PBB berisi perpanjangan embargo senjata terhadap Iran.[1] Pada resolusi-resolusi terkait sanksi Iran sebelumnya (2007–2010), Cina mendukung resolusi tersebut, tetapi berhasil mengajukan kompromi-kompromi untuk meminimalkan dampak terhadap Iran dan hubungan keduanya. Misalnya, pada Resolusi 1696, Cina menyetujui hanya setelah Amerika Serikat (AS) setuju untuk mengesampingkan rencana serangan militer terhadap Iran.[2] Pada Resolusi 1747, Cina mengajukan supaya sanksi tidak merugikan rakyat Iran, serta hubungan ekonomi normal antara Iran dan negara lain.[3] Hal tersebut menarik untuk dikaji karena Cina mengambil posisi mendukung Iran di saat mayoritas negara-negara lain kontra terhadap Iran, termasuk AS. Saya percaya bahwa hal tersebut adalah tindakan yang rasional untuk mencapai tujuan politik luar negeri Cina. Untuk itu, saya akan memusatkan argumen saya pada dua argumen, yaitu melindungi kerja sama Cina dan Iran yang dibutuhkan keduanya dan menolak hegemoni AS.

Cina mendukung Iran di Dewan Keamanan PBB karena Cina berkepentingan untuk melindungi kerja sama Cina dan Iran yang dibutuhkan keduanya. Cina dan Iran telah menjalin hubungan sejak berabad-abad berupa hubungan antara dua peradaban besar masa itu. Cina dan Iran sendiri meresmikan hubungan diplomatik pada 1971 dan kerja sama keduanya meningkat pesat sejak Perang Iran-Irak di mana Cina menyuplai senjata bagi Iran yang sedang diembargo oleh negara-negara Barat.[4] Kerja sama ekonomi Cina dan Iran terus berkembang dan meliputi beberapa bidang, yaitu perdagangan minyak, perdagangan non-minyak, investasi infrastruktur, dan perdagangan senjata.

Perdagangan minyak menjadi aspek penting bagi Cina dalam hubungannya dengan Iran. Liberalisasi ekonomi yang ditempuh oleh Deng Xiaoping mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat diikuti dengan meroketnya kebutuhan industri terhadap sumber daya energi. Akan tetapi, cadangan minyak Cina hanya 2% dari cadangan global dan hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga 1992.[5] Oleh karena itu, tidak heran bila Cina berekspansi menjalin kerja sama energi dengan berbagai negara untuk menjamin kelancaran pertumbuhan ekonominya, salah satunya dengan Iran. Cadangan minyak Iran diestimasi sebesar 132,5 miliar barel atau 10% dari total cadangan minyak dunia, menjadikan Iran sebagai negara dengan cadangan minyak ketiga terbesar di dunia.[6] Impor minyak Iran ke Cina terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dari 300 ton pada 1977 menjadi 12,4 juta ton pada 2003.[7] Pada tahun 2002, Iran telah mengekspor lebih dari 15% dari pasokan minyak yang dibutuhkan oleh Cina sehingga menempatkan Iran sebagai negara penyuplai minyak terbesar kedua bagi Cina setelah Arab Saudi.[8] Minyak Iran merupakan aset penting karena ia belum dieksplorasi secara maksimal akibat keterbatasan teknologi dan cadangannya yang berlimpah dapat menjamin keamanan energi yang berkelanjutan bagi Cina. Data di atas menunjukkan bahwa Iran merupakan mitra penting dalam menjamin keamanan energi Cina sehingga Cina akan berupaya sekuat tenaga untuk melindungi hubungan keduanya.

Setelah menjatuhkan embargo senjata pada rezim Iran hasil revolusi, Amerika Serikat pada awal 2000-an juga menetapkan sanksi ekstrateritorial bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Iran akibat ditemukannya pengembangan nuklir. Cina sejak awal menolak untuk mematuhi sanksi unilateral AS tersebut karena ia tidak mau kehilangan sumber minyaknya. Cina telah memperingatkan AS supaya tidak memberi sanksi pada perusahaan minyaknya sehingga perusahaan tersebut aman dari sanksi, meski perusahaan non-energi lain terkena sanksi oleh AS.[9] Persoalan sanksi yang dapat mengancam keamanan energi inilah yang mendasari keengganan Cina untuk menyetujui draf-draf resolusi Dewan Keamanan PBB tanpa mengajukan kompromi-kompromi. Setelah resolusi-resolusi yang bersifat terbatas, pada 2010 akhirnya Cina menyetujui Resolusi 1929 yang mengadopsi sanksi yang lebih ketat terhadap Iran. Resolusi ini juga membuka jalan bagi negara-negara yang ingin memberi sanksi yang lebih keras lagi terhadap Iran. Beberapa negara memutuskan menarik investasi dari Iran. Di sini, kekosongan ekonomi Iran sangat terlihat dan Cina kemudian masuk untuk meningkatkan investasinya. Cina ternyata menyetujui Resolusi 1929 karena telah memastikan bahwa resolusi tersebut tidak berisi ketentuan khusus yang melarang kerja sama dalam bidang investasi energi atau perdagangan.[10]Oleh karena itu, keamanan energi Cina tetap terlindungi, bahkan Cina memperoleh keuntungan lebih karena ia mengisi tempat yang ditinggalkan oleh negara-negara lain. Tidak hanya bagi Cina, hal ini juga memberi keuntungan bagi Iran karena ia terselamatkan dari isolasi internasional akibat sanksi tersebut.

Argumen kedua mengapa Cina mendukung Iran di Dewan Keamanan PBB karena menolak hegemoni AS. Argumen ini perlu diperdalam dengan memperhatikan konteks relasi Cina-Iran dan Cina-AS. Pertama, konteks relasi Cina dan Iran dari sisi politisnya. Selain kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, hubungan keduanya diperkuat oleh kesamaan visi, yaitu ketidaksukaan terhadap hegemoni AS dalam politik internasional. Sejak dekade 80-an, keduanya menolak tekanan Barat untuk menerapkan demokrasi dan meningkatkan pemenuhan hak asasi manusia.[11] Apalagi, kedua negara memiliki sejarah kelam terkait intervensi asing. Cina mengalami century of humiliation akibat penjajahan Inggris dan negara Eropa lainnya, sedangkan AS bertanggung jawab atas pembentukan rezim pro-Amerika di Iran — yang kemudian digulingkan dalam Revolusi Iran 1979.[12] Maka, tidak heran bila keduanya ingin lepas dari dikte AS, termasuk dalam isu pengembangan nuklir Iran. Dukungan Cina terhadap Iran adalah bentuk dukungan terhadap mitra yang sama-sama memiliki pandangan anti-hegemoni AS. Dukungan tersebut juga didorong oleh keyakinan bahwa Iran merupakan mitra yang tepat untuk mengimbangi dominasi AS, terutama di tingkat regional. Timur Tengah merupakan kawasan yang penting bagi dunia sebagai sumber minyak. Sementara itu, AS memiliki pengaruh yang sangat besar di kawasan tersebut. Satu-satunya kekuatan regional yang mengambil posisi berlawanan terhadap AS adalah Iran. Oleh karena itu, Iran perlu didukung dan dikuatkan dalam menghadapi AS. Apabila AS tidak berhasil memaksa Iran untuk mematuhinya, pengaruh AS akan menurun dan Iran dapat naik bersama Cina sebagai kekuatan dalam tatanan dunia yang multipolar.[13]

Kedua, konteks relasi Cina dan AS. Hubungan keduanya merupakan hubungan yang kompleks di mana kerja sama dan konflik terus terjadi. Keduanya saling membutuhkan, terutama dalam hal kerja sama ekonomi. Namun, konflik juga terus muncul. Beberapa tahun belakangan, hubungan keduanya memanas di berbagai bidang, mulai dari persoalan Taiwan, perang dagang, Huawei, Laut Cina Selatan, Covid-19, hingga penutupan konsulat Cina di AS. Dalam kasus nuklir Iran, Cina melihat tindakan-tindakan unilateral AS terhadap Iran sebagai bentuk hegemoni AS. Cina mendukung pengembangan nuklir Iran dengan mengatakan bahwa Iran memiliki hak legal dalam mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai.[14] Oleh karena itu, AS tidak seharusnya mencampuri urusan domestik Iran. Hal ini dikuatkan pula oleh pandangan Cina terhadap sanksi unilateral AS pada dekade 2000-an yang enggan dipatuhi Cina. Selain persoalan keamanan energi yang telah disinggung sebelumnya, sanksi tersebut dianggap sebagai bentuk nyata hegemoni AS. Dalam pandangan Cina, hukum nasional sebuah negara seharusnya tidak boleh beroperasi di luar teritorinya dan mengikat negara lain.[15]

Zhang Jun, perwakilan tetap Cina untuk PBB, dalam komentarnya terhadap kegagalan perpanjangan embargo senjata Iran yang diajukan AS pada 2020 menyebut bahwa AS harus meninggalkan unilateralisme, menghentikan sanksi unilateral, dan kembali sesuai kesepakatan internasional.[16] Hal ini merujuk pada tindakan sepihak AS yang keluar dari Perjanjian Nuklir Iran 2015. Dengan menolak resolusi yang diajukan AS, Cina menolak untuk tunduk pada hegemoni AS. Penundaan pembahasan draf resolusi dan kompromi-kompromi yang diajukan Cina juga merupakan bagian dari dukungan Cina terhadap Iran sehingga termasuk penolakan terhadap hegemoni AS. Strategi ini dapat disebut soft balancing di mana Cina melawan hegemoni AS menggunakan cara tidak langsung (non-militer).[17] Soft balancing ini menjadi penting karena pada akhirnya Cina tidak dapat melawan AS secara terang-terangan, mengingat Cina juga membutuhkan AS. Hubungan dengan AS merupakan hubungan bilateral paling penting bagi Cina, ditandai dengan fakta bahwa AS adalah pasar ekspor utama Cina, AS masih merupakan kekuatan utama dunia yang berada di balik berbagai organisasi internasional, dan AS memiliki kekuatan militer yang besar di Asia-Pasifik.[18] Dengan begitu, dapat dilihat bahwa Cina telah memilih untuk menolak hegemoni AS dalam isu yang tidak mencederai hubungan keduanya. Meski begitu, pembelaan Cina terhadap Iran tetap merupakan bentuk nyata penolakan Cina terhadap hegemoni AS yang memaksakan kehendaknya dan mencampuri urusan domestik negara lain.

Kedua argumen di atas, yaitu melindungi kerja sama Cina dan Iran yang dibutuhkan keduanya dan menolak hegemoni AS telah menunjukkan bahwa posisi Cina mendukung Iran adalah tindakan rasional untuk mencapai tujuan politik luar negerinya, terlepas dari posisi tersebut berlawanan dengan mayoritas negara-negara lain. Lebih lanjut, apabila kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, upaya Cina melindungi keamanan energinya dan menyeimbangkan dominasi AS merupakan bagian dari upaya mencapai tujuan utama, yaitu mempertahankan kedaulatan dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

[1] ‘UN Security Council rejects resolution that would extend Iran arms embargo,’ Xinhuanet (daring), 15 August 2020, <http://www.xinhuanet.com/english/2020-08/15/c_139292914.htm>, diakses pada 16 Desember 2020.

[2] W. van Kemenade, ‘China vs. the Western Campaign for Iran Sanctions,’ The Washington Quarterly, vol. 33, no. 3, July 2010, p. 100.

[3] Van Kemenade, p. 101.

[4] P. Mackenzie, A Closer Look at China-Iran Relations Roundtable Report, CNA Chinese Studies, Arlington, 2010, p. 2.

[5] M. Dorraj & C. L. Currier, ‘LUBRICATED WITH OIL: IRAN-CHINA RELATIONS IN A CHANGING WORLD,’ Middle East Policy, vol. XV, no. 2, Summer 2008, p. 70.

[6] Dorraj & Currier, p. 71.

[7] Dorraj & Currier, pp. 71–72.

[8] L. Jin, ‘Energy First: China and the Middle East,’ Middle East Quarterly, vol. 2, no. 2, 2005, sebagaimana dikutip dalam M. Dorraj & C. L. Currier, ‘LUBRICATED WITH OIL: IRAN-CHINA RELATIONS IN A CHANGING WORLD,’ Middle East Policy, vol. XV, no. 2, Summer 2008, p. 71.

[9] J. W. Garver, ‘China and Iran: Expanding Cooperation under Conditions of US Domination,’ dalam N. Horesh (ed.), Toward Well-Oiled Relations?, Palgrave Macmillan, London, 2016, p. 193.

[10] E. Downs & S. Maloney, ‘Getting China to Sanction Iran: The Chinese-Iranian Oil Connection,’ Foreign Affairs, vol. 90, no. 2, March/April 2011, p. 15.

[11] S. Harold & A. Nader, China and Iran Economic, Political, and Military Relations, RAND Corporation, Santa Monica, 2012, p. 4.

[12] Harold & Nader, p. 3.

[13] Garver, p. 199.

[14] J. Liu & L. Wu, ‘Key Issues in China-Iran Relations,’ Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia), vol. 4, no. 1, 2010, p. 49.

[15] Garver, p. 194.

[16] ‘UN Security Council rejects resolution that would extend Iran arms embargo’.

[17] R.A. Pape, ‘Soft Balancing Against the United States,’ International Security, vol. 30, no. 1, September 2005, pp. 7–45, sebagaimana dikutip dalam M. Lanteigne, Chinese Foreign Policy An Introduction, 4th edn, Routledge, Oxon, 2020, p. 157.

[18] G. J. Moore, ‘Less beautiful, still somewhat imperialist: Beijing eyes Sino-US Relations,’ dalam S. Breslin (ed.), Handbook of China’s International Relations, Routledge, London, 2010, p. 134.

Kepustakaan

Artikel dalam Jurnal

Dorraj, M. & Currier, C.L. ‘LUBRICATED WITH OIL: IRAN-CHINA RELATIONS IN A CHANGING WORLD,’ Middle East Policy, vol. XV, no. 2, Summer 2008, pp. 66–80.

Downs, E. & Maloney, S. ‘Getting China to Sanction Iran: The Chinese-Iranian Oil Connection,’ Foreign Affairs, vol. 90, no. 2, March/April 2011, pp. 15–21.

Jin, L. ‘Energy First: China and the Middle East,’ Middle East Quarterly, vol. 2, no. 2, 2005, sebagaimana dikutip dalam Dorraj, M. & Currier, C.L. ‘LUBRICATED WITH OIL: IRAN-CHINA RELATIONS IN A CHANGING WORLD,’ Middle East Policy, vol. XV, no. 2, Summer 2008, pp. 66–80.

Liu, J. & Wu, L. ‘Key Issues in China-Iran Relations,’ Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia), vol. 4, no. 1, 2010, pp. 40–57.

van Kemenade, W. ‘China vs. the Western Campaign for Iran Sanctions,’ The Washington Quarterly, vol. 33, no. 3, July 2010, pp. 99–114.

Buku

Harold, S. & Nader, A., China and Iran Economic, Political, and Military Relations, RAND Corporation, Santa Monica, 2012.

Mackenzie, P., A Closer Look at China-Iran Relations Roundtable Report, CNA Chinese Studies, Arlington, 2010.

Pape, R.A. ‘Soft Balancing Against the United States,’ International Security, vol. 30, no. 1, September 2005, pp. 7–45, sebagaimana dikutip dalam Lanteigne, M., Chinese Foreign Policy An Introduction, 4th edn, Routledge, Oxon, 2020.

Bab dalam buku yang disunting

Garver, J.W., ‘China and Iran: Expanding Cooperation under Conditions of US Domination,’ dalam N. Horesh (ed.), Toward Well-Oiled Relations?, Palgrave Macmillan, London, 2016, pp. 180–205.

Moore, G.J., ‘Less beautiful, still somewhat imperialist: Beijing eyes Sino-US Relations,’ dalam Breslin, S. (ed.), Handbook of China’s International Relations, Routledge, London, 2010, 129–137.

Artikel daring

‘UN Security Council rejects resolution that would extend Iran arms embargo,’ Xinhuanet (daring), 15 August 2020, <http://www.xinhuanet.com/english/2020-08/15/c_139292914.htm>, diakses pada 16 Desember 2020.

--

--

International Relations Student at Universitas Gadjah Mada

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Sayyid AM

Sayyid AM

18 Followers

International Relations Student at Universitas Gadjah Mada